Headline

Mahasiswa Ekonomi Syariah INAMIS Berhasil Tembus 15 Besar Business Plan Competition National 2026 (B-NATION 2026) di Universitas Trunodjoyo Madura

berita • 11 Oktober 2026

Mahasiswa Ekonomi Syariah INAMIS Berhasil Tembus 15 Besar Business Plan Competition National 2026 (B-NATION 2026) di Universitas Trunodjoyo Madura

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa prodi ekonomi syariah dalam ajang kompetisi tingkat nasional. Tim mahasiswa terdiri dari 3 mahasiswa berhasil lolos ke babak 15 besar dalam Business Plan Competition National 2026 (B-NATION 2026) yang diselenggarakan oleh Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada 10 - 11 Oktober 2026.Kompetisi ini diikuti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Para peserta bersaing menyajikan gagasan bisnis inovatif yang dinilai dari berbagai aspek, mulai dari kelayakan usaha, analisis pasar, strategi pemasaran, model bisnis, hingga potensi keberlanjutan dan dampak sosial. Setelah melalui tahap seleksi proposal yang ketat, hanya 15 tim terbaik yang dinyatakan berhak melaju ke tahap berikutnya.Lolosnya tim ke 15 besar menjadi bukti bahwa ide bisnis yang diusung memiliki nilai kompetitif dan mampu bersaing dengan peserta dari berbagai daerah. Tim mengaku bangga atas capaian tersebut dan menyebut proses persiapan menjadi pengalaman berharga.Para finalis akan mempresentasikan business plan mereka di hadapan dewan juri yang terdiri atas akademisi dan praktisi bisnis. Pada tahap ini, peserta dituntut tidak hanya menjelaskan gagasan, tetapi juga mempertahankan argumen dalam sesi tanya jawab.Pihak penyelenggara berharap B-NATION 2026 dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan, melahirkan wirausaha muda yang kreatif, serta memperkuat budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi.Meskipun belum lulus ke 3 besar prestasi ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk aktif mengikuti kompetisi akademik dan nonakademik, sekaligus mengharumkan nama almamater di tingkat nasional.

Baca Selengkapnya→
Sukses Jalankan Entrepreneurship Based Internship (EBI), Mahasiswa Ekonomi Syariah FEBI INAMIS Serahkan Bagi Hasil Mudharabah

berita • 14 Juli 2026

Sukses Jalankan Entrepreneurship Based Internship (EBI), Mahasiswa Ekonomi Syariah FEBI INAMIS Serahkan Bagi Hasil Mudharabah

Lamongan - Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) INAMIS sukses menyelenggarakan penyerahan pengembalian modal usaha sekaligus bagi hasil dari para mahasiswa peserta Entrepreneurship Based Internship (EBI) pada 14 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi puncak dari pelaksanaan magang kewirausahaan yang secara nyata mengimplementasikan praktik akad mudharabah.Dalam program ini, fakultas mengambil peran sebagai shahibul maal (pemilik modal), sementara mahasiswa bertindak sebagai mudharib (pengelola usaha). Setelah sebulan penuh terjun langsung menjalankan bisnis, para mahasiswa memaparkan laporan pertanggungjawaban secara komprehensif. Laporan tersebut mencakup perkembangan bisnis, omzet penjualan, laba usaha, hingga rincian pembagian keuntungan sesuai nisbah yang disepakati di awal akad.Prosesi penyerahan simbolis ini bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan pembuktian komitmen mahasiswa dalam memegang teguh prinsip amanah, transparansi, dan akuntabilitas dalam mengelola usaha syariah. Dekan FEBI INAMIS turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi, kreativitas, serta tanggung jawab yang telah ditunjukkan para peserta.Ke depannya, Entrepreneurship Based Internship (EBI) diharapkan terus dipertahankan sebagai salah satu program unggulan Prodi Ekonomi Syariah. Melalui EBI, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi langsung merasakan dinamika pengelolaan bisnis riil, manajemen keuangan, serta penerapan etika bisnis Islam, sehingga siap menjadi lulusan yang berjiwa entrepreneur dan profesional.

Baca Selengkapnya→
Workshop Penyusunan Kurikulum dan RPS Berbasis OBE Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS)

berita • 11 Juli 2026

Workshop Penyusunan Kurikulum dan RPS Berbasis OBE Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS)

Lamongan, 11 Juli 2026 – Dalam rangka meningkatkan mutu akademik dan memperkuat implementasi kurikulum berbasis capaian pembelajaran, Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada Sabtu, 11 Juli 2026.Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Ir. Syamsul Arifin, M.T., yang dikenal sebagai pakar dalam pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran berbasis OBE. Workshop ini diikuti oleh seluruh dosen serta civitas akademika INAMIS sebagai bagian dari komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa pendekatan Outcome-Based Education (OBE) berfokus pada capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes) yang terukur dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan zaman. Pendekatan ini menuntut penyelarasan antara capaian pembelajaran, materi perkuliahan, metode pembelajaran, serta sistem evaluasi. Hal ini sejalan dengan praktik di berbagai perguruan tinggi yang menjadikan OBE sebagai strategi utama peningkatan mutu akademik.Workshop berlangsung secara interaktif dengan beberapa sesi utama, antara lain:Penguatan konsep dasar kurikulum berbasis OBEPenyusunan dan penyelarasan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)Teknik penyusunan RPS berbasis OBEPraktik langsung penyusunan RPS oleh dosenPeserta tampak antusias mengikuti kegiatan, terutama pada sesi praktik dan diskusi, di mana dosen secara langsung menyusun dan merevisi RPS sesuai dengan standar OBE. Kegiatan semacam ini terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi dosen dalam merancang pembelajaran yang terarah dan terukur.Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan kualitas lulusan INAMIS agar lebih kompeten, adaptif, dan berdaya saing. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya persiapan akreditasi dan penguatan sistem penjaminan mutu internal.Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan seluruh program studi di lingkungan INAMIS mampu menghasilkan dokumen kurikulum dan RPS yang berkualitas, terstandar, serta selaras dengan kebutuhan stakeholder dan perkembangan global pendidikan tinggi.

Baca Selengkapnya→
FTK INAMIS Lepas Mahasiswa Semester VI ke Sekolah Mitra, Siapkan Calon Guru Profesional Berkarakter dan Berintegritas

berita • 11 Juli 2026

FTK INAMIS Lepas Mahasiswa Semester VI ke Sekolah Mitra, Siapkan Calon Guru Profesional Berkarakter dan Berintegritas

Lamongan, 11 Juli 2026 – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Institut Alif Muhammad Imam Syafi'i (INAMIS) menggelar acara Pelepasan Mahasiswa Semester VI untuk mengikuti Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memasuki dunia pendidikan secara langsung melalui praktik dan pembelajaran di sekolah yang tersebar beberapa sekolah mitra pada jenjang menengah pertama dan menengah atas.Acara pelepasan dihadiri oleh jajaran pimpinan Institut Alif Muhammad Imam Syafi'i, dosen pembimbing, serta seluruh mahasiswa peserta PLP. Prosesi pelepasan secara resmi dilakukan oleh Rektor INAMIS sebagai bentuk dukungan sekaligus amanah kepada mahasiswa yang akan mengemban tugas sebagai calon pendidik di lingkungan sekolah.Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan menyampaikan bahwa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan menjadi wahana belajar yang sesungguhnya bagi mahasiswa untuk memahami dinamika dunia pendidikan."Manfaatkan momen PLP ini sebagai ajang belajar yang nyata di sekolah. Di sanalah mahasiswa akan memperoleh pengalaman berharga tentang proses pembelajaran, budaya sekolah, manajemen pendidikan, hingga penguatan kompetensi sebagai calon guru profesional," pesannya.Beliau juga berharap mahasiswa mampu menghubungkan berbagai teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan sehingga memiliki kesiapan yang lebih matang ketika nantinya terjun sebagai pendidik.Sementara itu, Rektor Institut Alif Muhammad Imam Syafi'i yang secara resmi melepas keberangkatan mahasiswa memberikan beberapa pesan penting kepada seluruh peserta PLP. Beliau menekankan agar mahasiswa senantiasa menampilkan performa terbaik selama berada di sekolah mitra."Jadilah duta terbaik INAMIS. Tunjukkan kemampuan akademik, disiplin, tanggungjwab, dan profesional. Jagalah adab dan sopan santun dalam setiap interaksi dengan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, maupun masyarakat sekitar. Selain itu, jangan hanya menjadi pengamat, tetapi aktiflah berkontribusi membantu berbagai program dan kegiatan di sekolah mitra," tutur Rektor.Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan mahasiswa dalam PLP tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari sikap, kepribadian, kemampuan beradaptasi, komunikasi, serta kontribusi nyata dalam mendukung kegiatan sekolah.Program PLP sendiri merupakan bagian dari kurikulum pendidikan guru yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengamati, menganalisis, serta melaksanakan pembelajaran dan berbagai aktivitas persekolahan. Melalui kegiatan ini mahasiswa dibimbing oleh dosen pembimbing dan guru pamong untuk mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian sebagai bekal menjadi pendidik yang berkualitas. Selama pelaksanaan PLP, mahasiswa akan melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari observasi kultur sekolah, menelaah kurikulum dan perangkat pembelajaran, membantu penyusunan modul ajar, praktik mengajar terbimbing, hingga berpartisipasi dalam kegiatan administrasi dan ekstrakurikuler di sekolah mitra. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk calon guru yang profesional, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan. Dengan pelepasan ini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan INAMIS berharap seluruh mahasiswa dapat menjaga nama baik almamater, menunjukkan integritas dan akhlak mulia, serta menjadikan pengalaman PLP sebagai sarana pembelajaran yang bermakna untuk mempersiapkan diri menjadi guru profesional yang kompeten, berkarakter, dan siap mengabdi bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Baca Selengkapnya→
PKKMB INAMIS 2026 Bekali Mahasiswa Baru dengan Wawasan Keaswajaan, Akademik, dan Tradisi Keilmuan

kampus • 4 Oktober 2026

PKKMB INAMIS 2026 Bekali Mahasiswa Baru dengan Wawasan Keaswajaan, Akademik, dan Tradisi Keilmuan

Lamongan, 4 Oktober 2026 — Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS) menyelenggarakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 INAMIS tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik, sistem perkuliahan, tradisi keilmuan, serta nilai-nilai yang menjadi pijakan kehidupan kampus.PKKMB tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pengenalan administratif dan kelembagaan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kesiapan intelektual, moral, spiritual, dan sosial dalam menjalani kehidupan akademik di perguruan tinggi.Salah satu materi utama yang diberikan adalah Keaswajaan dan Teologi Sufisme yang disampaikan oleh Gus Qodir, Ketua MWC NU Kembangbahu sekaligus Dewan Masyayikh Pondok Pesantren Darussalam Kedungklanting, Kedung Megarih, Kembangbahu, Lamongan. Pondok pesantren tersebut dikenal sebagai salah satu lembaga yang mengamalkan dan mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah.Dalam penyampaiannya, materi keaswajaan dan sufisme diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, dan penguatan spiritualitas. Mahasiswa didorong agar tidak hanya menjadi insan akademik yang kritis, tetapi juga memiliki integritas, kedalaman spiritual, serta tanggung jawab sosial.Materi berikutnya adalah Sistem Informasi Akademik, yang disampaikan oleh Mas Rizki Agung Permana, Kepala Tim IT INAMIS. Mahasiswa baru diperkenalkan dengan berbagai sistem dan mekanisme layanan akademik yang akan digunakan selama proses perkuliahan, sehingga sejak awal mahasiswa memiliki pemahaman mengenai pengelolaan informasi akademik secara efektif dan mandiri.Sementara itu, Kepala LPPM INAMIS, M. Syafiq Mughni, memberikan materi mengenai Pengenalan Kepada Penulisan Karya Ilmiah. Materi ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik mahasiswa, khususnya dalam membiasakan mahasiswa membaca, berpikir kritis, menyusun gagasan secara sistematis, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan ilmiah.Selain itu, mahasiswa baru juga mendapatkan materi Kefakultasan dan Keprodian yang disampaikan oleh jajaran stakeholder serta para Ketua Program Studi (Kaprodi) di lingkungan INAMIS. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai struktur akademik, karakteristik program studi, profil lulusan, proses pembelajaran, serta berbagai peluang pengembangan kompetensi mahasiswa selama menempuh pendidikan di INAMIS.Rangkaian PKKMB tersebut menunjukkan bahwa proses awal kehidupan mahasiswa di INAMIS dibangun melalui tiga fondasi utama: penguatan spiritualitas dan karakter, penguasaan budaya akademik, serta pemahaman terhadap sistem pendidikan dan program studi.Melalui PKKMB 2026, INAMIS meneguhkan komitmennya untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak, memiliki tradisi keilmuan yang kuat, serta mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.Dengan demikian, PKKMB bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru, melainkan menjadi gerbang awal menuju proses transmisi keilmuan dan transformasi peradaban yang menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan mahasiswa di INAMIS.

Baca Selengkapnya→
Rapat Koordinasi dan Audiensi  Persiapan Semester Ganjil 2026/2027 Civitas Akademik Institut Alif Muhammad Imam Syafi'i

kampus • 26 September 2026

Rapat Koordinasi dan Audiensi Persiapan Semester Ganjil 2026/2027 Civitas Akademik Institut Alif Muhammad Imam Syafi'i

Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS) menggelar rapat koordinasi dan audiensi dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan langkah seluruh unsur akademik dalam meningkatkan mutu pembelajaran, tata kelola kelembagaan, serta pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.Dalam rapat tersebut, dibahas sejumlah agenda prioritas yang menjadi fokus pengembangan INAMIS pada semester ganjil tahun akademik 2026/2027.Perkuliahan Berbasis Peningkatan LiterasiSalah satu fokus utama adalah penguatan sistem perkuliahan yang berorientasi pada peningkatan literasi mahasiswa. Pembelajaran diarahkan tidak hanya pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dalam meningkatkan minat membaca, memahami bacaan dan pembacaan serta menulis, menganalisis, berdiskusi, serta mengembangkan gagasan secara akademik.Budaya literasi diharapkan menjadi bagian integral dari proses perkuliahan melalui penguatan bahan bacaan, diskusi ilmiah, penulisan akademik, presentasi yang lebih sistematis, dan pemanfaatan berbagai sumber referensi yang relevan.Digitalisasi Tata KelolaPoint Agenda pembahasan selanjutnya adalah digitalisasi tata kelola kelembagaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan akademik maupun administrasi.Digitalisasi diarahkan untuk mendukung pengelolaan data akademik, Absensi digital, administrasi perkuliahan, dokumentasi, komunikasi kelembagaan, serta pelayanan kepada mahasiswa dan dosen. Dengan tata kelola berbasis digital, INAMIS diharapkan mampu membangun sistem kerja yang lebih terintegrasi dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika.Optimalisasi Penelitian dan Pengabdian kepada MasyarakatRapat juga memberikan perhatian khusus terhadap penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian penting dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.Dosen didorong untuk meningkatkan produktivitas penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan keilmuan. Hasil penelitian selanjutnya akan di desiminasikan melalui podcast platform Digital seperti YouTube dll. diharapkan nantinya dapat dikembangkan menjadi program pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Melalui optimalisasi penelitian dan pengabdian, INAMIS berkomitmen membangun ekosistem akademik yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian berbagai persoalan di tengah masyarakat.Rapat koordinasi dan audiensi ini menjadi bagian dari ikhtiar INAMIS untuk memulai Semester Ganjil 2026/2027 dengan perencanaan yang terarah, tata kelola yang semakin adaptif, serta orientasi akademik yang kuat.Dengan sinergi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, INAMIS terus mendorong terwujudnya budaya akademik yang literat, digital, produktif dalam penelitian, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Baca Selengkapnya→
INAMIS Gelar Silaturahim Mahasiswa dan Wali Mahasiswa Penerima KIP

kampus • 26 September 2026

INAMIS Gelar Silaturahim Mahasiswa dan Wali Mahasiswa Penerima KIP

Lamongan, 26 September 2026 — Institut Alif Muhammad Imam Syafi’i (INAMIS) menggelar silaturahim mahasiswa dan wali mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) pada Sabtu (26/9). Kegiatan berlangsung pukul 09.00 WIB di Masjid Bustanul Hikmah.Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara pihak kampus, mahasiswa, dan keluarga untuk memperkuat komunikasi serta membangun komitmen bersama dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa penerima KIP.Dalam pertemuan tersebut, KIP dipahami bukan sekadar dukungan pembiayaan pendidikan, tetapi juga sebagai amanah yang perlu diiringi kesungguhan mahasiswa dalam menjalani proses akademik. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan prestasi, kedisiplinan, dan pengembangan diri.Silaturahim juga menjadi momentum bagi wali mahasiswa untuk memperoleh pemahaman lebih dekat mengenai proses pendidikan di INAMIS. Komunikasi antara kampus dan keluarga dinilai penting agar pendampingan mahasiswa dapat berjalan secara berkesinambungan.Melalui kegiatan ini, INAMIS mendorong terbentuknya sinergi antara kampus, mahasiswa, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung keberhasilan studi sekaligus pembentukan karakter mahasiswa.Kegiatan ditutup dengan pesan agar kesempatan memperoleh pendidikan dimanfaatkan secara sungguh-sungguh dan dapat menjadi jalan bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai insan berilmu, berkarakter, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Selengkapnya→
Seminar Sumber Daya Santri Segmen 2: “Mindset Entrepreneur dan Investor Era Baru”

kampus • 23 Mei 2026

Seminar Sumber Daya Santri Segmen 2: “Mindset Entrepreneur dan Investor Era Baru”

Program Studi Ekonomi Syariah bersama panitia kegiatan Sumber Daya Santri sukses menyelenggarakan Seminar Sumber Daya Santri Segmen 2 dengan tema “Mindset Entrepreneur dan Investor Era Baru” pada tanggal 23 Mei 2026 bertempat di Masjid Bustabul Hikmah. Kegiatan ini diikuti oleh santri, siswa kelas XII MA dan SMK Bustanul hikmah dan mahasiswa ekonomi syariah, dengan penuh antusias sebagai upaya membangun pola pikir kewirausahaan dan literasi investasi di era modern.Seminar ini menghadirkan pembahasan mengenai pentingnya membangun mental entrepreneur, kemampuan membaca peluang usaha, serta pemahaman investasi yang cerdas dan produktif di tengah perkembangan ekonomi digital. Peserta diberikan motivasi untuk menjadi generasi yang mandiri, inovatif, dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang dalam dunia bisnis dan investasi.Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa generasi muda, khususnya santri dan mahasiswa, perlu memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) agar mampu menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompetitif. Selain itu, investasi tidak hanya dipahami sebagai aktivitas finansial semata, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam membangun masa depan yang berkelanjutan dan bernilai manfaat.Kegiatan seminar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta tampak aktif menggali informasi terkait strategi memulai usaha, pengelolaan keuangan, investasi halal, serta peluang bisnis digital yang relevan dengan perkembangan zaman.Panitia kegiatan menyampaikan bahwa seminar ini menjadi salah satu bentuk pembinaan sumber daya santri agar tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan kewirausahaan, literasi finansial, dan kesiapan menghadapi perubahan ekonomi di era baru.Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan inspiratif di lingkungan Masjid Bustabul Hikmah yang memberikan nuansa religius sekaligus edukatif bagi seluruh peserta. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir generasi muda yang produktif, visioner, dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam dunia bisnis dan investasi.

Baca Selengkapnya→
Al-i'tirof bi Al-khata' Konsep Tawadhu Dalam Suluknya Seorang Salik Memahami Kebenaran

opini • 27 Oktober 2026

Al-i'tirof bi Al-khata' Konsep Tawadhu Dalam Suluknya Seorang Salik Memahami Kebenaran

Konsep ajaran tasawuf KH.Alif Muhammad Imam Syafi’i kali ini ialah “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah.”  Ketika diri ini merasa apa yang dilakukan itu benar, maka itu Adalah kesalahan mutlak. karena kebenaran yang haqiqi itu dimiliki dan  hanya dimiliki sang pencipta. Pencipta seluruh jagad raya, pencipta manusia, yang Bernama Allah subhanahu wata’ala. Dan dari kata “merasa” itu sudah salah. Kenapa merasa itu salah?, karna nanti akan timbul sifat sombong, merasa paling benar dari yang lain, merasa paling baik dari yang lain, dan merasa semua dari dirinya, padahal kita sebagai manusia, yang Bisa saja salah, dan pasti punya salah. Ketika seseorang merasa dirinya paling benar, paling saleh, atau paling baik, ia berisiko terjebak dalam ujub, yakni kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan takabbur, yaitu kesombongan.Dari sinilah MERASA BENAR ITU SALAH.Karena ia menutup pintu kebenaran dari sudut pandang yang lain.Orang yang merasa paling benar telah selesai belajar.Ia menutup telinga dari kebenaran dari sudut pandang lain.Sebagaimana Hujan itu benar bagi petani yang menanti tumbuh benih.Tapi hujan itu luka dan persepsi yang salah bagi saudara kita yang sedang terkena musibah.Hujan itu rahmat bagi petani, tapi musibah bagi yang banjir. Sudut pandanglah yang membedakan tentang sesuatu kebenaran.Dan...Disinilah kita perlu belajar bahwa Merasa benar itu adalah salah dan  sebuah kesalahan Karena itu kebalikan nya MERASA SALAH ITU JUSTUR BENAR.Karena ia sadar akan batasnya.Ia mau menunduk, merenung, dan bertumbuh.Dari muhasabah, lahir kebaikan.Dari berbenah, lahir lah berkahKarena orang yang merasa salah, hatinya hidup.Ia tahu dirinya terbatas.Ia mau bercermin, muhasabah, dan memperbaiki diri.Dari situlah kebaikan itu tumbuh lestari .Tidak pernah merasa selesai, selalu ingin berbenah dan membenahi diri dan di situlah sebuah hal yang benar dan menjadi kebenaran Sehingga Dari Hikmah beliau bisa di ambil konklusi bahwa Merasa benar itu salah, karena menutup kebenaran lain.Merasa salah itu benar, karena membuka jalan untuk terus tumbuh dan berbenah.Maka slogan tasawwuf “ Jikalau ujung rambut sampa ujung kaki merasa benar , itulah salah” mengingatkan kita, mewaspadai kita, untuk tidak selalu merasa apapun dari dirinya sendiri, menghindari sifat sombong, dan meyakini bahwa jikalau bukan karena allah, manusia tidak akan bisa apa -apa. Seperti di dalam surat al fatir ayat 15:  وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا"...Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)." Ayat ini menjelaskan secara mutlak bahwa manusia Adalah mahkluk yang fakir (butuh) kepada Allah dalam segala hal, sementara Allah tidak membutuhkan apapun, Lantas apakah pantas kita merasa paling benar dari yang lain. Terdapat juga ayat yang menegur keras orang-orang yang merasa dirinya paling benar atau suci, padahal dimata allah Tindakan mereka justru salah atau keliru, di dalam surat an najm ayat 32:فَلَا تُزَكُّوْآ اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى"... Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." Maka sangat perlu untuk kita ketahui, bahwa untuk tidak selalu merasa, tidak selalu menganggap apapun yang terjadi, karena usaha kita, melainkan apapun yang melata dibumi seluruhnya atas izin allah,seperti dalam surat al hud ayat 56:إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus." (QS. Hud: 56)Ayat ini menegaskan, bahwa setiap makhluk melata dibumi, sepenuhnya berada dalam genggaman, kekuasaan, dan kendali Allah, termasuk kita sebagai manusia, diberi akal untuk berfikir, dberi hati untuk merasa, dan diberi iman untuk meyakini, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, terkecuali atas izin dan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. semakin seseorang mengenal keterbatasan dirinya, semakin ia menyadari kebesaran Allah SWTLandasan Al-Quran dan Hadist QS. Fatir ayat 15يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُArtinya: “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan apa pun), Maha Terpuji.” (QS. Fatir: 15). QS. An-Najm ayat 32 فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰArtinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). QS. An-Nahl ayat 53 وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِArtinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53). QS. Hud ayat 56 إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍArtinya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56).HR. Muslim, no. 91a.Rasulullah ﷺ bersabda:الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِArtinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hariKehidupan pribadi: Membiasakan introspeksi diri dan mengakui kesalahan.Kehidupan sosial: Menghargai pendapat orang lain dan menghindari perselisihan akibat ego.Kehidupan beragama: Tidak merasa paling saleh atau paling suci dibandingkan orang lain.Dunia pendidikan: Terbuka terhadap kritik, nasihat, dan pengetahuan baru.Dunia kerja: Tidak menyalahgunakan jabatan, bersedia menerima masukan, dan menghargai kontribusi orang lain.Menghadapi keberhasilan dan kegagalan: Bersyukur ketika berhasil, bersabar ketika gagal, serta tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah.Studi Kasus atau Fenomena KontemporerFenomena kontemporer yang relevan dengan ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i, “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah.”Media sosial: merasa paling benar dalam berpendapatFenomena: Di media sosial, seseorang sering memaksakan pendapatnya, menyerang orang yang berbeda pandangan, atau merasa pendapatnya paling benar tanpa memeriksa fakta terlebih dahulu.Merasa paling saleh dalam kehidupan beragamaFenomena: Seseorang rajin beribadah atau memiliki pengetahuan agama, tetapi merasa dirinya lebih suci daripada orang lain dan mudah menghakimi orang yang berbeda praktik keagamaannya.Pemimpin yang antikritikFenomena: Seorang pemimpin organisasi atau perusahaan merasa keputusannya selalu benar, mengabaikan masukan anggota, dan menyalahkan bawahan ketika terjadi kegagalan.Pamer keberhasilan di media sosialFenomena: Seseorang memamerkan kekayaan, prestasi, atau pencapaian untuk memperoleh pengakuan, sekaligus menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain.Konflik dalam keluarga atau pertemananFenomena: Dalam suatu perselisihan, setiap pihak merasa dirinya paling benar, tidak mau meminta maaf, dan terus menyalahkan pihak lain.Solusi atau Penerapan Akhlak TasawufDzikrullahMuhasabah (Introspeksi Diri): Mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, dan memperbaiki perilaku.Tawadhu’ (Rendah Hati): Tidak merasa paling benar dan menghargai pendapat orang lain.Menghindari Ujub dan Takabbur: Tidak membanggakan diri atau merendahkan orang lain atas kelebihan yang dimiliki.Menjaga Akhlak di Media Sosial: Berkomentar dengan santun, memeriksa informasi, dan menghormati perbedaan pendapat.Ikhlas dan Bersyukur: Melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian serta menyadari nikmat berasal dari Allah SWT.Tawakal dan Ikhtiar: Berusaha maksimal, berdoa, dan menyerahkan hasil kepada Allah SWT.Tabayyun dan Menerima Kritik: Memeriksa kebenaran informasi, mendengarkan nasihat, dan bersedia memperbaiki kesalahan.KesimpulanKonsep ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i, yaitu “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah,” mengajarkan pentingnya introspeksi diri, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan serta senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT. Perasaan selalu benar dapat menumbuhkan sifat ujub dan takabbur apabila membuat seseorang merasa paling baik, menolak kebenaran, dan merendahkan orang lain.Ajaran ini relevan dengan kehidupan modern, seperti dalam penggunaan media sosial, kehidupan beragama, dunia pendidikan, kepemimpinan, dan hubungan sosial. Oleh karena itu, diperlukan penerapan akhlak tasawuf melalui dzikrullah, muhasabah, tawadhu’, ikhlas, syukur, serta sikap terbuka terhadap kritik dan kebenaran.Inti dari ajaran ini adalah manusia tidak boleh terjebak dalam kesombongan dan merasa dirinya selalu benar, melainkan harus senantiasa memperbaiki diri, menghargai sesama, dan menyadari kebesaran Allah SWT. Dengan demikian, tasawuf tidak hanya menjadi pemahaman spiritual, tetapi juga menjadi pedoman untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, rendah hati, dan mampu menjalani kehidupan secara bijaksana.Penulis1.  Ananda Enjefi2. Nurdiana Dwi Indriyanti

Baca Selengkapnya→
Seni Menjadi Bukan Siapa-Siapa: Memahami Ajaran Tasawuf KH Alif Muhammad Imam Syafi’i tentang Kerendahan Hati

opini • 19 Oktober 2026

Seni Menjadi Bukan Siapa-Siapa: Memahami Ajaran Tasawuf KH Alif Muhammad Imam Syafi’i tentang Kerendahan Hati

Konsep utama ajaran tasawuf KH Alif Muhammad Imam Syafii disini kami mengambil prinsip hidupnya,yaitu “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa”.Slogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengandung makna kerendahan hati, menghindari kesombongan, dan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT. Dan KH Darmawan pernah dawuh bahwa kita di dunia hanya seperti mampir minum saja.Maknanya :Diri bukan siapa-siapa berarti seseorang tidak perlu merasa lebih tinggi daripada orang lain karena jabatan, ilmu, kekayaan, atau kedudukannya. Dalam tasawuf, seseorang diajarkan untuk melawan sifat sombong dan menyadari keterbatasan dirinya sebagai hamba Allah. Tidak menjadi apa-apa berarti tidak menjadikan kedudukan, gelar, atau pencapaian duniawi sebagai alasan untuk membanggakan diri. Seseorang tetap menjalankan tanggung jawabnya, tetapi tidak terikat pada pujian dan pengakuan manusia.Makna spiritualnya adalah belajar mengendalikan ego, membersihkan hati dari sifat tercela, serta menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah dan berbuat baik. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam agar manusia tidak menyombongkan diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 63 tentang sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang berjalan di bumi dengan rendah hati.Kesimpulannya, slogan tersebut bukan berarti manusia tidak memiliki nilai atau tidak perlu berusaha, melainkan mengajarkan agar seseorang tidak merasa dirinya paling hebat. Semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin rendah hati pula sikapnya, karena segala kelebihan merupakan amanah dan karunia dari Allah SWT.Landasan Alquran dan HaditsQS.Al-Furqon:63وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا ۝٦٣Artinya: "Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka [dengan kata-kata yang menghina], mereka mengucapkan, 'Salam,’”Surah Al-Luqman Ayat 18وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ ۚArtinya: "Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."Surah Al-Isra Ayat 37وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا ۝٣٧Artinya: "Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."Hadis Riwayat Tirmidziمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُArtinya: "Tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya," (HR. Tirmidzi, hasan).Hadis Riwayat Muslimوَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّاArtinya: "Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya," (HR. Muslim).Analisis dan Relevansi dengan kehidupanSlogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengajarkan kita untuk mengendalikan ego, menjauhi kesombongan, dan selalu rendah hati sebagai hamba Allah SWT.Dalam kehidupan sehari-hari, slogan ini diterapkan dengan tidak merasa paling pintar, tidak merendahkan orang lain, mau menerima nasihat, serta tidak mengharapkan pujian saat berbuat baik.Dalam pendidikan: Seseorang yang memiliki gelar tinggi tetap rendah hati, tidak merasa paling pintar, dan mau belajar dari orang lain.Dalam pekerjaan: Seseorang yang memiliki jabatan tidak merendahkan bawahannya dan tetap menghormati semua orang.Dalam beribadah: Seseorang rajin beribadah tanpa merasa dirinya paling saleh atau menganggap orang lain lebih buruk.Ketika mendapat pujian: Tetap bersyukur kepada Allah dan tidak menjadi sombong karena menyadari bahwa kelebihan yang dimiliki merupakan karunia-Nya.Ketika mendapat kritik: Tidak mudah tersinggung atau merasa direndahkan, tetapi bersedia mengevaluasi diri dan menerima nasihat yang baik.Intinya, slogan ini bukan berarti kita tidak boleh sukses, tetapi mengajarkan agar kita tetap rendah hati, ikhlas, dan bermanfaat bagi sesama meskipun memiliki ilmu dan kedudukan tinggi.Studi kasus atau fenomena kontemporerFenomena yang relevan dengan slogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” adalah kebiasaan memamerkan kekayaan, prestasi, atau gaya hidup di media sosial demi mendapatkan pujian dan pengakuan orang lain.Dalam perspektif tasawuf, perilaku tersebut dapat menjadi bahan introspeksi agar seseorang tidak terjebak dalam kesombongan dan keinginan untuk dipuji.Dengan demikian, slogan ini mengajarkan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh popularitas atau pengakuan manusia, melainkan oleh keikhlasan, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Solusi atau penerapan nilai akhlak tasawufDzikrullahRendah hati, tidak merasa lebih baik daripada orang lain.Introspeksi diri, menyadari kekurangan dan memperbaiki kesalahan.Ikhlas, melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian.Mengendalikan ego, tidak mudah sombong ketika mendapat pujian atau jabatan.Menghargai sesama, memperlakukan semua orang dengan baik tanpa membedakan status sosial.Berdasarkan pembahasan dalam kosep ajaran tasawuf beliau ini, dapat disimpulkan bahwa ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i yang tercermin dalam slogan “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, menjauhi kesombongan, dan menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki merupakan karunia dari Allah SWT.Ajaran ini sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis yang menganjurkan manusia untuk bersikap rendah hati serta tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran tersebut dapat diterapkan dengan bersikap ikhlas, menghargai sesama, menerima nasihat, melakukan introspeksi diri, dan tidak mencari pujian ketika berbuat baik.Dengan demikian, ajaran tasawuf ini bukan berarti kita tidak boleh sukses atau meraih cita-cita, melainkan mengajarkan agar kita tetap rendah hati meskipun memiliki ilmu, kekayaan, maupun kedudukan yang tinggi. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, dekat dengan Allah SWT, dan bermanfaat bagi orang lain.Nama : Mutiara Wista Romadhona dan Mauladatuz ZakiyahProdi : Pendidikan Agama Islam

Baca Selengkapnya→
Menggugat Arah Kebijakan Pendidikan: Restorasi Agenda Reformasi demi Masa Depan Bangsa

opini • 21 Mei 2026

Menggugat Arah Kebijakan Pendidikan: Restorasi Agenda Reformasi demi Masa Depan Bangsa

Pendidikan adalah urat nadi pembangunan sebuah bangsa. Ketika sebuah negara gagal menempatkan pendidikan sebagai prioritas strategis utama, maka seluruh fondasi kemajuannya—mulai dari ekonomi, keadilan sosial, hingga kualitas demokrasi—akan keropos secara perlahan. Hari ini, Indonesia berada di persimpangan jalan antara mengoptimalkan potensi manusianya atau terjebak dalam krisis kualitas belajar yang berkepanjangan.Artikel ini membedah akar historis pendidikan pasca-Reformasi, dampak nyata dari ketimpangan kebijakan, kritik atas arah pembangunan saat ini, serta solusi strategis yang meletakkan mahasiswa sebagai motor penggeraknya.Pendidikan dalam Perspektif Reformasi: Memutus Belenggu, Membangun NalarPendidikan sejati bukan sekadar sarana transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen perubahan sosial (social engineering). Melalui pendidikan, struktur sosial yang kaku dapat dicairkan, kemiskinan struktural antargenerasi dapat diputus, dan mobilitas sosial vertikal dapat diwujudkan.Lebih dari itu, terdapat hubungan timbal balik yang absolut antara pendidikan dan demokrasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang literat, kritis, dan mampu membuat keputusan berbasis rasionalitas. Tanpa pendidikan yang membebaskan nalar, demokrasi hanya akan menjadi panggung manipulasi politik elektoral yang pragmatis.Semangat inilah yang melandasi reformasi pendidikan pasca-1998. Jatuhnya rezim otoriter membuka keran demokratisasi sekolah, otonomi daerah dalam pengelolaan pendidikan, kebebasan akademik, hingga lahirnya amanat konstitusi untuk mengalokasikan 20% APBN/APBD khusus bagi sektor pendidikan. Reformasi menginginkan sistem yang tidak lagi seragam (sentralistik) dan represif, melainkan humanis dan inklusif. Namun, setelah lebih dari dua dekade, janji-janji manis reformasi tersebut justru kerap kali layu di tangan birokratisasi dan kompromi politik.Dampak Ketimpangan Prioritas Kebijakan: Bom Waktu GenerasiKetika kebijakan pendidikan salah menetapkan skala prioritas dan lebih mementingkan aspek kosmetik ketimbang substansi, kita sedang menumpuk bom waktu. Dampak ketimpangan prioritas ini kini nyata terlihat pada empat fenomena krusial:Kualitas SDM yang Stagnan: Kendati anggaran 20% telah dikucurkan bertahun-tahun, peringkat daya saing global talenta dan indeks inovasi Indonesia masih tertinggal di papan tengah bawah. Kita terjebak dalam produktivitas yang rendah karena kualitas luaran pendidikan yang belum kompetitif.Ketimpangan Akses Pendidikan: Menatap mewahnya fasilitas sekolah urban di kota-kota besar terasa sangat kontras dengan realitas sekolah di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Anak-anak di pelosok masih harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan rusak demi ruang kelas yang hampir roboh tanpa fasilitas digital yang memadai.Krisis Literasi dan Numerasi: Data dari pemeringkatan internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan rapor merah: mayoritas anak Indonesia usia sekolah masih kesulitan memahami teks bacaan sederhana dan tidak menguasai konsep dasar matematika. Ini bukan lagi sekadar krisis "tidak bersekolah", melainkan "krisis belajar" di dalam sekolah.Bonus Demografi yang Terancam Gagal: Indonesia sedang berada di puncak jendela peluang bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh melampaui usia nonproduktif. Jika kelompok usia produktif ini tidak dibekali keterampilan tingkat tinggi (high-order skills) dan ketahanan mental, kita tidak akan memanen kesejahteraan, melainkan bencana sosial berupa ledakan angka pengangguran massal.Kritik terhadap Arah Kebijakan Pemerintah: Terjebak Pragmatisme Jangka PendekKrisis yang kita hadapi berakar dari paradigma pengambil kebijakan yang kerap keliru dalam menafsirkan pembangunan pendidikan.Pertama, terjadinya benturan keras antara program populis vs pembangunan jangka panjang. Pemerintah sering kali tergoda meluncurkan kebijakan yang langsung terlihat hasilnya sebelum masa pemilu berakhir (seperti bagi-bagi bantuan fisik kosmetik atau digitalisasi tanpa kesiapan infrastruktur), ketimbang berinvestasi pada hal-hal fundamental yang hasilnya baru terlihat 10 hingga 20 tahun ke depan, seperti pembenahan kurikulum yang mendalam atau reformasi tata kelola guru.Kedua, ada bias pandangan yang menempatkan pendidikan sebagai beban pengeluaran APBN, bukan sebagai investasi. Menghitung alokasi anggaran pendidikan dengan kacamata untung-rugi akuntansi jangka pendek adalah kekeliruan fatal. Setiap rupiah yang ditanam pada otak anak bangsa hari ini adalah jaminan bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal di masa depan.Ketiga, penyakit kronis yang belum juga sembuh: ketidaksinambungan kebijakan pendidikan. Fenomena "ganti menteri, ganti kebijakan" bukan sekadar pemeo penonton layar kaca, melainkan kenyataan pahit yang melelahkan para guru dan siswa di lapangan. Evaluasi kebijakan belum sempat matang dan mengakar, ego sektoral pejabat baru sudah memaksakan rombakan total yang membingungkan ekosistem bawah.Solusi Strategis untuk Pendidikan Indonesia: Cetak Biru Masa DepanGuna membalikkan keadaan dari stagnasi menuju lompatan kemajuan, diperlukan solusi akademik yang terintegrasi dan berani: Penguatan Kualitas Guru: Guru adalah pilar utama ruang kelas. Solusi mendesak yang dibutuhkan adalah penyederhanaan beban administrasi birokratis agar guru fokus mengajar, peningkatan kesejahteraan yang berkeadilan, serta pelatihan pedagogi yang melatih nalar kritis siswa, bukan sekadar metode hafalan.Pemerataan Akses Pendidikan: Redistribusi anggaran secara afirmatif harus diarahkan penuh ke wilayah pinggiran. Standardisasi sarana prasarana fisik, akses laboratorium, dan jaringan internet harus disetarakan agar anak di pelosok memiliki titik start yang sama dengan anak di pusat kota.Revitalisasi Pendidikan Karakter: Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan robot pekerja yang pintar secara kognitif namun miskin empati. Nilai-nilai integritas, kejujuran, antikorupsi, toleransi, dan etika publik harus dianyam secara organik ke dalam budaya sekolah, bukan sekadar menjadi hafalan teks ujian pilihan ganda.Link and Match Pendidikan dan Dunia Kerja: Kurikulum pendidikan menengah dan tinggi harus responsif terhadap disrupsi teknologi abad ke-21. Namun, konsep link and match ini tidak boleh mengerdilkan institusi pendidikan menjadi sekadar "pabrik pemasok buruh murah" bagi industri, melainkan pencetak pemecah masalah (problem solver) dan inovator mandiri.Peran Kampus dalam Pembangunan Daerah: Perguruan tinggi harus meruntuhkan dinding pembatas menara gadingnya. Riset-riset, hilirisasi produk, dan pengabdian masyarakat dari dosen serta mahasiswa harus didesentralisasikan untuk langsung menyelesaikan problem nyata (kemiskinan, tata kelola lingkungan, pertanian) yang dihadapi oleh pemerintah daerah setempat.Peran Mahasiswa sebagai Agen Reformasi: Menolak Apatisme, Merawat IdealismeDi tengah sengkarut krisis prioritas ini, sivitas akademika—khususnya mahasiswa—tidak boleh diam dan menjadi penonton yang pasif. Kampus tidak boleh didegradasi fungsinya hanya menjadi tempat transit berburu indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi demi selembar ijazah kerja.Sebagai intelektual muda, mahasiswa memikul tanggung jawab moral sebagai kekuatan kontrol sosial (social control). Ketika arah kebijakan pendidikan nasional mulai melenceng ke arah komersialisasi ugal-ugalan atau salah urus anggaran, mahasiswa wajib hadir sebagai alarm pengingat jalannya kekuasaan.Namun, gerakan mahasiswa hari ini wajib bermutasi dari sekadar romantisasi aksi massa masa lalu menuju gerakan yang ditopang oleh tradisi akademik. Kritik yang dilayangkan tidak boleh sekadar berbasis emosi atau jargon kosong, melainkan harus berupa gerakan moral yang bersendikan basis data empiris, kajian teoretis mendalam, serta penawaran alternatif solusi yang kredibel.Oleh karena itu, kampus harus tetap dijaga sebagai ruang kritik konstruktif. Kampus adalah laboratorium bebas tempat bertemunya dialektika berpikir tanpa rasa takut terhadap intervensi kekuasaan. Dari mimbar akademis dan ruang diskusi kecil inilah, api reformasi pendidikan harus terus dinyalakan dan dirawat demi menyelamatkan masa depan republik.KesimpulanMenata ulang arah kebijakan pendidikan bukan lagi sekadar pilihan politik, melainkan kewajiban eksistensial bangsa Indonesia. Membiarkan stagnasi kualitas belajar dan ketimpangan akses terus berlarut-larut sama saja dengan menggadaikan masa depan generasi penerus. Melalui penguatan kualitas pendidik, pemerataan infrastruktur yang sahih, serta penegasan kembali peran mahasiswa sebagai kompas moral bangsa, kita dapat meluruskan kembali kiblat pendidikan nasional: memanusiakan manusia Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesungguhnya.Penulis: Muhammad Syafiq Mughni M.Pd

Baca Selengkapnya→
Golden Age dan Pola Asuh Orang Tua: Fondasi Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

opini • 2 Maret 2026

Golden Age dan Pola Asuh Orang Tua: Fondasi Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Didalam dunia parenting dan Pendidikan anak sering kali pola asuh orang tua cukup mempengarui anak dalam tumbuh kembangnya anak. golden age menjadi masa krusial bagi anak yang akan terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi karakter yang melekat pada kepribadian anak.Masa golden age merupakan periode paling penting dalam perkembangan seorang anak. Mengabaikan masa ini sama artinya dengan mengabaikan aset terpenting dalam kehidupan seseorang. Pada tahap inilah perkembangan otak, karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak tumbuh dengan sangat pesat.Seorang anak hanya sekali berada pada tahap golden age. Setelah itu, ia akan memasuki fase perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, parenting, perhatian, pendidikan, kasih sayang, serta stimulasi yang tepat pada masa ini sangat menentukan kualitas kehidupan anak di masa depan.Didalam beberapa studi penelitian tentang psikologi perkembangan anak menyatakan bahwa golden age pada anak itu memiliki masa usia rentang 0-6 tahun, pada masa ini juga menetukan seluruh aspek perkembangan yang ada pada anak, baik dari sisi keceredasan, prilaku, sikap, karakter pada masa ini 80% kecerdasan anak dibentuk baik kecerdasan intlektual, sosial juga spiritual.[1]Keith Osborn, Burton L. White, dan Benjamin S. Bloom berdasarkan hasil penelitian mereka, mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak berlangsung sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa telah terbentuk ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan sekitar 30% berikutnya terjadi hingga usia 8 tahun, dan 20% sisanya berkembang pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua kehidupan.[2]Temuan ini menegaskan bahwa masa kanak-kanak awal merupakan periode yang sangat menentukan dalam pembentukan kapasitas intelektual seseorang, sehingga memerlukan perhatian, stimulasi, dan pendidikan yang optimal sejak dini.Dalam aspek kehidupan keluarga sering kali terjadi kesalahan dalam sikap parenting yang dilakukan orang tua sehingga memeberikan stimulasi dan respon perkembangan  anak yang berbeda – beda pula.Suatu contoh, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan” tuh kan gak denger sih apa yang mama katakan” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang minder dan menyalahkan dirinya sendiri.Contoh kedua, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ ini salah lantainya, mana mama pukul nih lantai, dasar lantai nakal” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang merasa paling benar meski salah dan sering menyalahkan orang lain.Contoh ketiga, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ gak papa nak kamu kuat kamu tegar” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang pandai mengkuatkan diri, meski didalam hatinya rapuh dan begitu menyakitkan.Contoh keempat, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ gak papa nak mana yang sakit, lari boleh tapi harus hati-hati, kalau tidak nanti jatuh seperti ini lagi” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang reflektif dan belajar dari kesalahan, selain itu anak dilatih bagaimana berfikir sebab akibat sehingga mampu menemukan hulu dan hilir dari fakta, masalah, akar masalah, dan Solusi dari masalah.Beberapa Gambaran diatas, betapa menunjukan sikap, respon, perkataan orang tua Adalah beberapa jenis parenting yang bisa mempengarui serta membuat sistem kerangka kepribadian anak yang dibawah hingga dewasa, apalagi di usia golden age memiliki signifikasi pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan psikogis seseorang. Oleh: ACH YASYKUR AMINURROZI[1] Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta:Kencana.[2] Willis, Paul.2006. “TheGoldenAge.” OnRecord: Rock, PopandtheWrittenWord35–45. doi:10.4324/9780203993026.

Baca Selengkapnya→