Kategori Berita

opini

Menampilkan 3 dari 3 Berita
Menggugat Arah Kebijakan Pendidikan: Restorasi Agenda Reformasi demi Masa Depan Bangsa

opini 21 Mei 2026

Menggugat Arah Kebijakan Pendidikan: Restorasi Agenda Reformasi demi Masa Depan Bangsa

Pendidikan adalah urat nadi pembangunan sebuah bangsa. Ketika sebuah negara gagal menempatkan pendidikan sebagai prioritas strategis utama, maka seluruh fondasi kemajuannya—mulai dari ekonomi, keadilan sosial, hingga kualitas demokrasi—akan keropos secara perlahan. Hari ini, Indonesia berada di persimpangan jalan antara mengoptimalkan potensi manusianya atau terjebak dalam krisis kualitas belajar yang berkepanjangan.Artikel ini membedah akar historis pendidikan pasca-Reformasi, dampak nyata dari ketimpangan kebijakan, kritik atas arah pembangunan saat ini, serta solusi strategis yang meletakkan mahasiswa sebagai motor penggeraknya.Pendidikan dalam Perspektif Reformasi: Memutus Belenggu, Membangun NalarPendidikan sejati bukan sekadar sarana transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen perubahan sosial (social engineering). Melalui pendidikan, struktur sosial yang kaku dapat dicairkan, kemiskinan struktural antargenerasi dapat diputus, dan mobilitas sosial vertikal dapat diwujudkan.Lebih dari itu, terdapat hubungan timbal balik yang absolut antara pendidikan dan demokrasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang literat, kritis, dan mampu membuat keputusan berbasis rasionalitas. Tanpa pendidikan yang membebaskan nalar, demokrasi hanya akan menjadi panggung manipulasi politik elektoral yang pragmatis.Semangat inilah yang melandasi reformasi pendidikan pasca-1998. Jatuhnya rezim otoriter membuka keran demokratisasi sekolah, otonomi daerah dalam pengelolaan pendidikan, kebebasan akademik, hingga lahirnya amanat konstitusi untuk mengalokasikan 20% APBN/APBD khusus bagi sektor pendidikan. Reformasi menginginkan sistem yang tidak lagi seragam (sentralistik) dan represif, melainkan humanis dan inklusif. Namun, setelah lebih dari dua dekade, janji-janji manis reformasi tersebut justru kerap kali layu di tangan birokratisasi dan kompromi politik.Dampak Ketimpangan Prioritas Kebijakan: Bom Waktu GenerasiKetika kebijakan pendidikan salah menetapkan skala prioritas dan lebih mementingkan aspek kosmetik ketimbang substansi, kita sedang menumpuk bom waktu. Dampak ketimpangan prioritas ini kini nyata terlihat pada empat fenomena krusial:Kualitas SDM yang Stagnan: Kendati anggaran 20% telah dikucurkan bertahun-tahun, peringkat daya saing global talenta dan indeks inovasi Indonesia masih tertinggal di papan tengah bawah. Kita terjebak dalam produktivitas yang rendah karena kualitas luaran pendidikan yang belum kompetitif.Ketimpangan Akses Pendidikan: Menatap mewahnya fasilitas sekolah urban di kota-kota besar terasa sangat kontras dengan realitas sekolah di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Anak-anak di pelosok masih harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan rusak demi ruang kelas yang hampir roboh tanpa fasilitas digital yang memadai.Krisis Literasi dan Numerasi: Data dari pemeringkatan internasional seperti PISA secara konsisten menunjukkan rapor merah: mayoritas anak Indonesia usia sekolah masih kesulitan memahami teks bacaan sederhana dan tidak menguasai konsep dasar matematika. Ini bukan lagi sekadar krisis "tidak bersekolah", melainkan "krisis belajar" di dalam sekolah.Bonus Demografi yang Terancam Gagal: Indonesia sedang berada di puncak jendela peluang bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh melampaui usia nonproduktif. Jika kelompok usia produktif ini tidak dibekali keterampilan tingkat tinggi (high-order skills) dan ketahanan mental, kita tidak akan memanen kesejahteraan, melainkan bencana sosial berupa ledakan angka pengangguran massal.Kritik terhadap Arah Kebijakan Pemerintah: Terjebak Pragmatisme Jangka PendekKrisis yang kita hadapi berakar dari paradigma pengambil kebijakan yang kerap keliru dalam menafsirkan pembangunan pendidikan.Pertama, terjadinya benturan keras antara program populis vs pembangunan jangka panjang. Pemerintah sering kali tergoda meluncurkan kebijakan yang langsung terlihat hasilnya sebelum masa pemilu berakhir (seperti bagi-bagi bantuan fisik kosmetik atau digitalisasi tanpa kesiapan infrastruktur), ketimbang berinvestasi pada hal-hal fundamental yang hasilnya baru terlihat 10 hingga 20 tahun ke depan, seperti pembenahan kurikulum yang mendalam atau reformasi tata kelola guru.Kedua, ada bias pandangan yang menempatkan pendidikan sebagai beban pengeluaran APBN, bukan sebagai investasi. Menghitung alokasi anggaran pendidikan dengan kacamata untung-rugi akuntansi jangka pendek adalah kekeliruan fatal. Setiap rupiah yang ditanam pada otak anak bangsa hari ini adalah jaminan bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal di masa depan.Ketiga, penyakit kronis yang belum juga sembuh: ketidaksinambungan kebijakan pendidikan. Fenomena "ganti menteri, ganti kebijakan" bukan sekadar pemeo penonton layar kaca, melainkan kenyataan pahit yang melelahkan para guru dan siswa di lapangan. Evaluasi kebijakan belum sempat matang dan mengakar, ego sektoral pejabat baru sudah memaksakan rombakan total yang membingungkan ekosistem bawah.Solusi Strategis untuk Pendidikan Indonesia: Cetak Biru Masa DepanGuna membalikkan keadaan dari stagnasi menuju lompatan kemajuan, diperlukan solusi akademik yang terintegrasi dan berani: Penguatan Kualitas Guru: Guru adalah pilar utama ruang kelas. Solusi mendesak yang dibutuhkan adalah penyederhanaan beban administrasi birokratis agar guru fokus mengajar, peningkatan kesejahteraan yang berkeadilan, serta pelatihan pedagogi yang melatih nalar kritis siswa, bukan sekadar metode hafalan.Pemerataan Akses Pendidikan: Redistribusi anggaran secara afirmatif harus diarahkan penuh ke wilayah pinggiran. Standardisasi sarana prasarana fisik, akses laboratorium, dan jaringan internet harus disetarakan agar anak di pelosok memiliki titik start yang sama dengan anak di pusat kota.Revitalisasi Pendidikan Karakter: Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan robot pekerja yang pintar secara kognitif namun miskin empati. Nilai-nilai integritas, kejujuran, antikorupsi, toleransi, dan etika publik harus dianyam secara organik ke dalam budaya sekolah, bukan sekadar menjadi hafalan teks ujian pilihan ganda.Link and Match Pendidikan dan Dunia Kerja: Kurikulum pendidikan menengah dan tinggi harus responsif terhadap disrupsi teknologi abad ke-21. Namun, konsep link and match ini tidak boleh mengerdilkan institusi pendidikan menjadi sekadar "pabrik pemasok buruh murah" bagi industri, melainkan pencetak pemecah masalah (problem solver) dan inovator mandiri.Peran Kampus dalam Pembangunan Daerah: Perguruan tinggi harus meruntuhkan dinding pembatas menara gadingnya. Riset-riset, hilirisasi produk, dan pengabdian masyarakat dari dosen serta mahasiswa harus didesentralisasikan untuk langsung menyelesaikan problem nyata (kemiskinan, tata kelola lingkungan, pertanian) yang dihadapi oleh pemerintah daerah setempat.Peran Mahasiswa sebagai Agen Reformasi: Menolak Apatisme, Merawat IdealismeDi tengah sengkarut krisis prioritas ini, sivitas akademika—khususnya mahasiswa—tidak boleh diam dan menjadi penonton yang pasif. Kampus tidak boleh didegradasi fungsinya hanya menjadi tempat transit berburu indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi demi selembar ijazah kerja.Sebagai intelektual muda, mahasiswa memikul tanggung jawab moral sebagai kekuatan kontrol sosial (social control). Ketika arah kebijakan pendidikan nasional mulai melenceng ke arah komersialisasi ugal-ugalan atau salah urus anggaran, mahasiswa wajib hadir sebagai alarm pengingat jalannya kekuasaan.Namun, gerakan mahasiswa hari ini wajib bermutasi dari sekadar romantisasi aksi massa masa lalu menuju gerakan yang ditopang oleh tradisi akademik. Kritik yang dilayangkan tidak boleh sekadar berbasis emosi atau jargon kosong, melainkan harus berupa gerakan moral yang bersendikan basis data empiris, kajian teoretis mendalam, serta penawaran alternatif solusi yang kredibel.Oleh karena itu, kampus harus tetap dijaga sebagai ruang kritik konstruktif. Kampus adalah laboratorium bebas tempat bertemunya dialektika berpikir tanpa rasa takut terhadap intervensi kekuasaan. Dari mimbar akademis dan ruang diskusi kecil inilah, api reformasi pendidikan harus terus dinyalakan dan dirawat demi menyelamatkan masa depan republik.KesimpulanMenata ulang arah kebijakan pendidikan bukan lagi sekadar pilihan politik, melainkan kewajiban eksistensial bangsa Indonesia. Membiarkan stagnasi kualitas belajar dan ketimpangan akses terus berlarut-larut sama saja dengan menggadaikan masa depan generasi penerus. Melalui penguatan kualitas pendidik, pemerataan infrastruktur yang sahih, serta penegasan kembali peran mahasiswa sebagai kompas moral bangsa, kita dapat meluruskan kembali kiblat pendidikan nasional: memanusiakan manusia Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesungguhnya.Penulis: Muhammad Syafiq Mughni M.Pd

Baca Selengkapnya
Golden Age dan Pola Asuh Orang Tua: Fondasi Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

opini 2 Maret 2026

Golden Age dan Pola Asuh Orang Tua: Fondasi Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Didalam dunia parenting dan Pendidikan anak sering kali pola asuh orang tua cukup mempengarui anak dalam tumbuh kembangnya anak. golden age menjadi masa krusial bagi anak yang akan terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi karakter yang melekat pada kepribadian anak.Masa golden age merupakan periode paling penting dalam perkembangan seorang anak. Mengabaikan masa ini sama artinya dengan mengabaikan aset terpenting dalam kehidupan seseorang. Pada tahap inilah perkembangan otak, karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak tumbuh dengan sangat pesat.Seorang anak hanya sekali berada pada tahap golden age. Setelah itu, ia akan memasuki fase perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, parenting, perhatian, pendidikan, kasih sayang, serta stimulasi yang tepat pada masa ini sangat menentukan kualitas kehidupan anak di masa depan.Didalam beberapa studi penelitian tentang psikologi perkembangan anak menyatakan bahwa golden age pada anak itu memiliki masa usia rentang 0-6 tahun, pada masa ini juga menetukan seluruh aspek perkembangan yang ada pada anak, baik dari sisi keceredasan, prilaku, sikap, karakter pada masa ini 80% kecerdasan anak dibentuk baik kecerdasan intlektual, sosial juga spiritual.[1]Keith Osborn, Burton L. White, dan Benjamin S. Bloom berdasarkan hasil penelitian mereka, mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak berlangsung sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa telah terbentuk ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan sekitar 30% berikutnya terjadi hingga usia 8 tahun, dan 20% sisanya berkembang pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua kehidupan.[2]Temuan ini menegaskan bahwa masa kanak-kanak awal merupakan periode yang sangat menentukan dalam pembentukan kapasitas intelektual seseorang, sehingga memerlukan perhatian, stimulasi, dan pendidikan yang optimal sejak dini.Dalam aspek kehidupan keluarga sering kali terjadi kesalahan dalam sikap parenting yang dilakukan orang tua sehingga memeberikan stimulasi dan respon perkembangan  anak yang berbeda – beda pula.Suatu contoh, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan” tuh kan gak denger sih apa yang mama katakan” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang minder dan menyalahkan dirinya sendiri.Contoh kedua, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ ini salah lantainya, mana mama pukul nih lantai, dasar lantai nakal” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang merasa paling benar meski salah dan sering menyalahkan orang lain.Contoh ketiga, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ gak papa nak kamu kuat kamu tegar” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang pandai mengkuatkan diri, meski didalam hatinya rapuh dan begitu menyakitkan.Contoh keempat, Ketika anak jatuh kemudian orang tua mengatakan “ gak papa nak mana yang sakit, lari boleh tapi harus hati-hati, kalau tidak nanti jatuh seperti ini lagi” pada aspek ini anak nanti akan menjadi pribadi yang reflektif dan belajar dari kesalahan, selain itu anak dilatih bagaimana berfikir sebab akibat sehingga mampu menemukan hulu dan hilir dari fakta, masalah, akar masalah, dan Solusi dari masalah.Beberapa Gambaran diatas, betapa menunjukan sikap, respon, perkataan orang tua Adalah beberapa jenis parenting yang bisa mempengarui serta membuat sistem kerangka kepribadian anak yang dibawah hingga dewasa, apalagi di usia golden age memiliki signifikasi pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan psikogis seseorang. Oleh: ACH YASYKUR AMINURROZI[1] Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta:Kencana.[2] Willis, Paul.2006. “TheGoldenAge.” OnRecord: Rock, PopandtheWrittenWord35–45. doi:10.4324/9780203993026.

Baca Selengkapnya
Sholat Sebagai Hadiah isro' Mi'raj dalam Mengurai Problematika Kehidupan

opini 16 Januari 2026

Sholat Sebagai Hadiah isro' Mi'raj dalam Mengurai Problematika Kehidupan

Ketika kita berproses dalam menjalani permasalahan, berproses dalam menjalani problematika kehidupan kita, kadang-kadang ada yang diberi bingung, ada yang diberi sumpek, ada yang deberi galau, dan ketika kita sudah bingung, ketika kita sudah sumpek disitulah awal dari kita menjadi mudah untuk mengeluh. Tetapi sungguh itu bukanlah solusi yang diajarkan oleh islam, itu bukanlah solusi yang diajarkan oleh agama, problematika yang dihadapi oleh manusia itu benar adanya terjadi, tak mungkin manusia tidak punya problematika kehidupan, tetapi untuk menghadapi problematika kehidupan yang dihadapi oleh setiap insan, oleh setiap individu manusia tentu harus dengan cara yang sudah diajarkan oleh Allah SWT.Begitupun baginda nabi beliau juga tidak lepas dari masalah, manakala beliau ditinggal meningggal oleh istri tercinta beliau dan paman pembela beliau, beliau dihibur oleh Allah SWT Dengan isro’ mi’roj. Pertanyaannya adalah  apa cara agar hidup & kehidupan kita, problematika dalam hidup kita selalu diberi solusi oleh Allah, apa yang kita inginkan diberikan oleh Allah, apa yang kita munajatkan ditakdirkan oleh Allah terjadi, Didalam surat Al-baqarah Allah SWT berfirman:وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةَِ"Minta tolonglah kalian kepada Allah dengan sabar & sholat".Kalau kita punya keinginan minta tolonglah kepada Allah agar keinginan kita ditakdirkan oleh Allah terjadi, apa yang kita inginkan  secepatnya diberikan oleh Allah, dengan apa…? Dengan sabar & sholat, kalau kita punya urusan yang sulit permasalahan yang sulit untuk dipecahkan, kembalikan semuanya kepada Allah, mintalah pertolongan kepada Allah, dengan apa…? Dengan sabar & sholat. Kitadirikan sholat wajib yang 5, kita laksakan dengan sebaik-baiknya syukur-syukur dapat kita tambahkan sholat hajat diluar sholat wajibnya, setelah sholat kita berdo’a bermunajat kepada Allah “Ya Rob sungguh tidak ada kata sulit kalau Engkau yang mempermudah, Ya Allah tidak kata berat jikalau Engkau yang memperingan, tidak ada masalah terkecuali Engkau yang menyelesaikan Ya Allah, permudah semua urusan saya Ya Allah, permudah semua urusan kedua orang tua saya, kabulkan semua keinginan saya yang membawa barokah, yang membawa manfaat maslahah dunia & akhiratnya” setelah berdo’a kepada Allah, kita bermunajat kepada Allah, kita minta pertolongan kepada Allah kita serahkan kembali kepada Allah, kita pasrahkan kembali semuanya  kepada Allah & kita yakinkan didalam diri bahwa hanya pengaturan Allah lah yang pasti & selalu benar, itulah salah satu bentuk dari kita belajar untuk bersabar menerima pengaturan dari Allah SWT. Oleh karena itu mari kita berhati-hati, dalam problematika  kehidupan yang semakin meningkat ini, setiap orang, setiap manusia memiliki sikap-sikap yang berbeda untuk  menyelesaikan permasalahannya. Sikap yang sudah  diajarkan oleh Al-Qur’an kepada kita, oleh Baginda Rosul  kepada kita tidak lain & tidak bukan mendekat & kembali  kepada Allah Azza wa Jallah.Zaman sekarang ini, tantangan semakin kuat. Arus perkembangan teknologi informasi tidak bisa dibendung lagi. Sisi budaya, pergaulan dan perkembangan anak-anak saat ini rentan sekali terhadap hal-hal negatif yang tidak diinginkan.Anak-anak mempunyai keinginan besar untuk melakukan sesuatu hal yang bagi mereka asyik dan menarik, terutama anak usia dini, karena mereka tidak memikirkan apa akibat yang akan ditimbulkan.Sehingga tidak menutup kemungkinan, banyak orang tua yang mengalami kegaulauan. Ada orang tua yang terlalu protektif, mereka membatasi pergaulan anak. Bahkan mengkungkung anak dan mengisolasinya dari perkembangan zaman. Sementara itu, di satu sisi, ada orang tua yang membiarkan anaknya tumbuh berkembang sesuai zaman yang berlangsung tanpa melakukan kontrol.Beberapa kekhawatiran itu adalah wajar adanya. Sehingga, yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, bagaimana orang tua dalam mendidik anak sesuai zamannya itu seperti apa?Dalam konteks ini, orang tua harus mempelajari dan mengamati perkembangan zaman, agar mampu beradaptasi secara optimal. Tepatnya mengenai pendidikan keagamaan anak sholatnya anak, ibadahnya anak, ngajinya anak.Perlu orang tua ketahui, bahwa anak merupakan titipan dari Allah yang sangat berharga dan harus dijaga. Anak merupakan kado terindah dan anugerah bagi orang tua yang tiada tara. Dia akan menjadi penghibur dikala suasana gundah melanda.Di sisi lain anak akan menjadi masalah bila kita tidak mampu mendidiknya secara benar. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan mengajarkan pendidikan sesuai dengan tuntunan Islam. Karena tidak aka nada yang menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat Oleh karena itu, sejak dini anak harus mulai dari ditanamkan pendidikan Islam mulai dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua.Beberapa tuntunan pendidikan anak dalam Islam ialah mengajarkan akidah dan ketauhidan. Akidah dan tauhid merupakan landasan dalam ajaran Islam. Apabila seseorang berakidah dan bertauhid, maka niscaya ia akan mendapatkan keselamatan dunia, maupun akhirat.Begitu pun sebaliknya, tanpa akidah dan tauhid seseorang bisa terjurumus dalam keburukan. Karenanya, penting bagi orang tua untuk terlebih dahulu paham mengenai ilmu agama, paling tidak untuk menjelaskan perihal ajaran Islam.Hal ini tentu saja untuk melancarkan upaya pendidikan anak berdasarkan ajaran agama Islam. Islam sendiri memerintahkan kita untuk banyak “membaca”. Landasan itu menjadi dasar hukum mengenai belajar firman Allah surat Az-Zumar: 9: Katakanlah (Ya Muhammad), tidaklah sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sesungguhnya orang yang memiliki akan pikiran adalah orang yang dapat memberi pelajaran.

Baca Selengkapnya