Seni Menjadi Bukan Siapa-Siapa: Memahami Ajaran Tasawuf KH Alif Muhammad Imam Syafi’i tentang Kerendahan Hati
Developer INAMIS
Penulis

Konsep utama ajaran tasawuf KH Alif Muhammad Imam Syafii disini kami mengambil prinsip hidupnya,yaitu “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa”.
Slogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengandung makna kerendahan hati, menghindari kesombongan, dan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT. Dan KH Darmawan pernah dawuh bahwa kita di dunia hanya seperti mampir minum saja.
Maknanya :
Diri bukan siapa-siapa berarti seseorang tidak perlu merasa lebih tinggi daripada orang lain karena jabatan, ilmu, kekayaan, atau kedudukannya. Dalam tasawuf, seseorang diajarkan untuk melawan sifat sombong dan menyadari keterbatasan dirinya sebagai hamba Allah.
Tidak menjadi apa-apa berarti tidak menjadikan kedudukan, gelar, atau pencapaian duniawi sebagai alasan untuk membanggakan diri. Seseorang tetap menjalankan tanggung jawabnya, tetapi tidak terikat pada pujian dan pengakuan manusia.
Makna spiritualnya adalah belajar mengendalikan ego, membersihkan hati dari sifat tercela, serta menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah dan berbuat baik. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam agar manusia tidak menyombongkan diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 63 tentang sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang berjalan di bumi dengan rendah hati.
Kesimpulannya, slogan tersebut bukan berarti manusia tidak memiliki nilai atau tidak perlu berusaha, melainkan mengajarkan agar seseorang tidak merasa dirinya paling hebat. Semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin rendah hati pula sikapnya, karena segala kelebihan merupakan amanah dan karunia dari Allah SWT.
- Landasan Alquran dan Hadits
- QS.Al-Furqon:63
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا ٦٣
Artinya: "Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka [dengan kata-kata yang menghina], mereka mengucapkan, 'Salam,’” - Surah Al-Luqman Ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ ۚ
Artinya: "Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." - Surah Al-Isra Ayat 37
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا ٣٧
Artinya: "Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." - Hadis Riwayat Tirmidzi
مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: "Tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya," (HR. Tirmidzi, hasan). - Hadis Riwayat Muslim
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا
Artinya: "Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya," (HR. Muslim).
- QS.Al-Furqon:63
- Analisis dan Relevansi dengan kehidupan
Slogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengajarkan kita untuk mengendalikan ego, menjauhi kesombongan, dan selalu rendah hati sebagai hamba Allah SWT.
Dalam kehidupan sehari-hari, slogan ini diterapkan dengan tidak merasa paling pintar, tidak merendahkan orang lain, mau menerima nasihat, serta tidak mengharapkan pujian saat berbuat baik.- Dalam pendidikan: Seseorang yang memiliki gelar tinggi tetap rendah hati, tidak merasa paling pintar, dan mau belajar dari orang lain.
- Dalam pekerjaan: Seseorang yang memiliki jabatan tidak merendahkan bawahannya dan tetap menghormati semua orang.
- Dalam beribadah: Seseorang rajin beribadah tanpa merasa dirinya paling saleh atau menganggap orang lain lebih buruk.
- Ketika mendapat pujian: Tetap bersyukur kepada Allah dan tidak menjadi sombong karena menyadari bahwa kelebihan yang dimiliki merupakan karunia-Nya.
- Ketika mendapat kritik: Tidak mudah tersinggung atau merasa direndahkan, tetapi bersedia mengevaluasi diri dan menerima nasihat yang baik.
Intinya, slogan ini bukan berarti kita tidak boleh sukses, tetapi mengajarkan agar kita tetap rendah hati, ikhlas, dan bermanfaat bagi sesama meskipun memiliki ilmu dan kedudukan tinggi.
- Studi kasus atau fenomena kontemporer
Fenomena yang relevan dengan slogan tasawuf “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” adalah kebiasaan memamerkan kekayaan, prestasi, atau gaya hidup di media sosial demi mendapatkan pujian dan pengakuan orang lain.
Dalam perspektif tasawuf, perilaku tersebut dapat menjadi bahan introspeksi agar seseorang tidak terjebak dalam kesombongan dan keinginan untuk dipuji.
Dengan demikian, slogan ini mengajarkan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh popularitas atau pengakuan manusia, melainkan oleh keikhlasan, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. - Solusi atau penerapan nilai akhlak tasawuf
- Dzikrullah
- Rendah hati, tidak merasa lebih baik daripada orang lain.
- Introspeksi diri, menyadari kekurangan dan memperbaiki kesalahan.
- Ikhlas, melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian.
- Mengendalikan ego, tidak mudah sombong ketika mendapat pujian atau jabatan.
- Menghargai sesama, memperlakukan semua orang dengan baik tanpa membedakan status sosial.
Berdasarkan pembahasan dalam kosep ajaran tasawuf beliau ini, dapat disimpulkan bahwa ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i yang tercermin dalam slogan “Diri bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa” mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, menjauhi kesombongan, dan menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki merupakan karunia dari Allah SWT.
Ajaran ini sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis yang menganjurkan manusia untuk bersikap rendah hati serta tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran tersebut dapat diterapkan dengan bersikap ikhlas, menghargai sesama, menerima nasihat, melakukan introspeksi diri, dan tidak mencari pujian ketika berbuat baik.
Dengan demikian, ajaran tasawuf ini bukan berarti kita tidak boleh sukses atau meraih cita-cita, melainkan mengajarkan agar kita tetap rendah hati meskipun memiliki ilmu, kekayaan, maupun kedudukan yang tinggi. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, dekat dengan Allah SWT, dan bermanfaat bagi orang lain.
Nama : Mutiara Wista Romadhona dan Mauladatuz Zakiyah
Prodi : Pendidikan Agama Islam