Al-i'tirof bi Al-khata' Konsep Tawadhu Dalam Suluknya Seorang Salik Memahami Kebenaran
Developer INAMIS
Penulis

Konsep ajaran tasawuf KH.Alif Muhammad Imam Syafi’i kali ini ialah “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah.” Ketika diri ini merasa apa yang dilakukan itu benar, maka itu Adalah kesalahan mutlak. karena kebenaran yang haqiqi itu dimiliki dan hanya dimiliki sang pencipta. Pencipta seluruh jagad raya, pencipta manusia, yang Bernama Allah subhanahu wata’ala. Dan dari kata “merasa” itu sudah salah. Kenapa merasa itu salah?, karna nanti akan timbul sifat sombong, merasa paling benar dari yang lain, merasa paling baik dari yang lain, dan merasa semua dari dirinya, padahal kita sebagai manusia, yang Bisa saja salah, dan pasti punya salah. Ketika seseorang merasa dirinya paling benar, paling saleh, atau paling baik, ia berisiko terjebak dalam ujub, yakni kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan takabbur, yaitu kesombongan.
Dari sinilah MERASA BENAR ITU SALAH.
Karena ia menutup pintu kebenaran dari sudut pandang yang lain.
Orang yang merasa paling benar telah selesai belajar.
Ia menutup telinga dari kebenaran dari sudut pandang lain.
Sebagaimana Hujan itu benar bagi petani yang menanti tumbuh benih.
Tapi hujan itu luka dan persepsi yang salah bagi saudara kita yang sedang terkena musibah.
Hujan itu rahmat bagi petani, tapi musibah bagi yang banjir. Sudut pandanglah yang membedakan tentang sesuatu kebenaran.
Dan...
Disinilah kita perlu belajar bahwa Merasa benar itu adalah salah dan sebuah kesalahan
Karena itu kebalikan nya MERASA SALAH ITU JUSTUR BENAR.
Karena ia sadar akan batasnya.
Ia mau menunduk, merenung, dan bertumbuh.
Dari muhasabah, lahir kebaikan.
Dari berbenah, lahir lah berkah
Karena orang yang merasa salah, hatinya hidup.
Ia tahu dirinya terbatas.
Ia mau bercermin, muhasabah, dan memperbaiki diri.
Dari situlah kebaikan itu tumbuh lestari .
Tidak pernah merasa selesai, selalu ingin berbenah dan membenahi diri dan di situlah sebuah hal yang benar dan menjadi kebenaran
Sehingga Dari Hikmah beliau bisa di ambil konklusi bahwa Merasa benar itu salah, karena menutup kebenaran lain.
Merasa salah itu benar, karena membuka jalan untuk terus tumbuh dan berbenah.
Maka slogan tasawwuf “ Jikalau ujung rambut sampa ujung kaki merasa benar , itulah salah” mengingatkan kita, mewaspadai kita, untuk tidak selalu merasa apapun dari dirinya sendiri, menghindari sifat sombong, dan meyakini bahwa jikalau bukan karena allah, manusia tidak akan bisa apa -apa. Seperti di dalam surat al fatir ayat 15:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا
"...Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)."
Ayat ini menjelaskan secara mutlak bahwa manusia Adalah mahkluk yang fakir (butuh) kepada Allah dalam segala hal, sementara Allah tidak membutuhkan apapun, Lantas apakah pantas kita merasa paling benar dari yang lain. Terdapat juga ayat yang menegur keras orang-orang yang merasa dirinya paling benar atau suci, padahal dimata allah Tindakan mereka justru salah atau keliru, di dalam surat an najm ayat 32:
فَلَا تُزَكُّوْآ اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
"... Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
Maka sangat perlu untuk kita ketahui, bahwa untuk tidak selalu merasa, tidak selalu menganggap apapun yang terjadi, karena usaha kita, melainkan apapun yang melata dibumi seluruhnya atas izin allah,seperti dalam surat al hud ayat 56:
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus." (QS. Hud: 56)
Ayat ini menegaskan, bahwa setiap makhluk melata dibumi, sepenuhnya berada dalam genggaman, kekuasaan, dan kendali Allah, termasuk kita sebagai manusia, diberi akal untuk berfikir, dberi hati untuk merasa, dan diberi iman untuk meyakini, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, terkecuali atas izin dan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. semakin seseorang mengenal keterbatasan dirinya, semakin ia menyadari kebesaran Allah SWT
Landasan Al-Quran dan Hadist
QS. Fatir ayat 15
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya: “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan apa pun), Maha Terpuji.” (QS. Fatir: 15).
QS. An-Najm ayat 32
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).
QS. An-Nahl ayat 53
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53).
QS. Hud ayat 56
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56).
HR. Muslim, no. 91a.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kehidupan pribadi: Membiasakan introspeksi diri dan mengakui kesalahan.
- Kehidupan sosial: Menghargai pendapat orang lain dan menghindari perselisihan akibat ego.
- Kehidupan beragama: Tidak merasa paling saleh atau paling suci dibandingkan orang lain.
- Dunia pendidikan: Terbuka terhadap kritik, nasihat, dan pengetahuan baru.
- Dunia kerja: Tidak menyalahgunakan jabatan, bersedia menerima masukan, dan menghargai kontribusi orang lain.
- Menghadapi keberhasilan dan kegagalan: Bersyukur ketika berhasil, bersabar ketika gagal, serta tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah.
Studi Kasus atau Fenomena Kontemporer
Fenomena kontemporer yang relevan dengan ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i, “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah.”
- Media sosial: merasa paling benar dalam berpendapat
Fenomena: Di media sosial, seseorang sering memaksakan pendapatnya, menyerang orang yang berbeda pandangan, atau merasa pendapatnya paling benar tanpa memeriksa fakta terlebih dahulu. - Merasa paling saleh dalam kehidupan beragama
Fenomena: Seseorang rajin beribadah atau memiliki pengetahuan agama, tetapi merasa dirinya lebih suci daripada orang lain dan mudah menghakimi orang yang berbeda praktik keagamaannya. - Pemimpin yang antikritik
Fenomena: Seorang pemimpin organisasi atau perusahaan merasa keputusannya selalu benar, mengabaikan masukan anggota, dan menyalahkan bawahan ketika terjadi kegagalan. - Pamer keberhasilan di media sosial
Fenomena: Seseorang memamerkan kekayaan, prestasi, atau pencapaian untuk memperoleh pengakuan, sekaligus menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain. - Konflik dalam keluarga atau pertemanan
Fenomena: Dalam suatu perselisihan, setiap pihak merasa dirinya paling benar, tidak mau meminta maaf, dan terus menyalahkan pihak lain.
Solusi atau Penerapan Akhlak Tasawuf
- Dzikrullah
- Muhasabah (Introspeksi Diri): Mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, dan memperbaiki perilaku.
- Tawadhu’ (Rendah Hati): Tidak merasa paling benar dan menghargai pendapat orang lain.
- Menghindari Ujub dan Takabbur: Tidak membanggakan diri atau merendahkan orang lain atas kelebihan yang dimiliki.
- Menjaga Akhlak di Media Sosial: Berkomentar dengan santun, memeriksa informasi, dan menghormati perbedaan pendapat.
- Ikhlas dan Bersyukur: Melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian serta menyadari nikmat berasal dari Allah SWT.
- Tawakal dan Ikhtiar: Berusaha maksimal, berdoa, dan menyerahkan hasil kepada Allah SWT.
- Tabayyun dan Menerima Kritik: Memeriksa kebenaran informasi, mendengarkan nasihat, dan bersedia memperbaiki kesalahan.
Kesimpulan
Konsep ajaran tasawuf KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i, yaitu “Jikalau ujung rambut sampai ujung kaki merasa benar, itulah salah,” mengajarkan pentingnya introspeksi diri, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan serta senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT. Perasaan selalu benar dapat menumbuhkan sifat ujub dan takabbur apabila membuat seseorang merasa paling baik, menolak kebenaran, dan merendahkan orang lain.
Ajaran ini relevan dengan kehidupan modern, seperti dalam penggunaan media sosial, kehidupan beragama, dunia pendidikan, kepemimpinan, dan hubungan sosial. Oleh karena itu, diperlukan penerapan akhlak tasawuf melalui dzikrullah, muhasabah, tawadhu’, ikhlas, syukur, serta sikap terbuka terhadap kritik dan kebenaran.
Inti dari ajaran ini adalah manusia tidak boleh terjebak dalam kesombongan dan merasa dirinya selalu benar, melainkan harus senantiasa memperbaiki diri, menghargai sesama, dan menyadari kebesaran Allah SWT. Dengan demikian, tasawuf tidak hanya menjadi pemahaman spiritual, tetapi juga menjadi pedoman untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, rendah hati, dan mampu menjalani kehidupan secara bijaksana.
Penulis
1. Ananda Enjefi
2. Nurdiana Dwi Indriyanti